Bantahan Untuk Nasiruddin Al-Albani

 
 

الألباني يمنع سنة الجمعة القبلية قبل الجمعة و بعد الأذان بحجة أنها بدعة

Al-Albaniy Melarang Shalat Sunnah Qobliyah Jum’at Sebelum Jum’at Setelah Adzan dengan Alasan Itu adalah Bid’ah

 
 

 
 

Dalam masalah ini Al-Albaniy menentang hadits-hadits sohih, hingga dia melarang shalat sebelum Jum’at dengan argumen yang mengatakan bahwa hal tersebut adalah bid’ah dan sungguh bertentangan dengan as-Sunnah. Dia telah berkata:

“Sesungguhnya shalat yang dimaksud antara adzan yang disyariatkan dan adzan yang dibuat-buat, yang mereka beri nama shalat sunnah Jum’at qobliyah tidak ada dasarnya dalam as- Sunnah dan tidak seorang pun dari para sahabat dan para imam yang mengatakannya” (Lihat kitabnya yang diberi nama Al-Ajwibah An-Nafi’ah halaman 41).

 
 

Jawaban:

Jawaban:

Al-Hafizh Zainuddin Al-Iroqiy dalam Syarah At-Tirmidziy telah menyebutkan, sesungguhnya Al-Khul’iy meriwayatkan dalam fawaidnya dari Ali bin Abu Tholib r.a.,

“Bahwa sesungguhnya Rasulullah s.a.w. telah shalat sebelum Jum’at empat rakaat dan sesudahnya empat rakaat”. Sanadnya bagus sebagaimana yang telah disebutkan oleh Waliyuddin Al-Iroqiy (Lihat Thorhu At-Tastriib fii Syarhi At Taqriib, 3/42).

 
 

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam “Talkhishu Al-Habiir” berkata: “Faedah dalam (masalah shalat) sunnah Jum’at yang sebelumnya Ar- Rofi’iy tidak menyebutkan hadits. Hadits yang paling sohih dalam masalah ini adalah apa yang telah diriwayatkan oleh Ibnu Majah (Talkhishu Al-Hobiir, 2/74) dari Daud bin Rosyid dari Hafshin bin Ghiyast dari Al-A’mas dari Abu Soleh dari Abu Hurairoh dari Abu Sofyan dari Jabir. Mereka berdua berkata, “Telah datang Sulaik Al-Ghotofani sedangkan Rasulullah s.a.w. dalam keadaan berkhotbah kemudian beliau bersabda kepadanya:

أصلّيت ركعتين قبل أن تجيء؟

“Apakah kamu sudah shalat sebelum kamu datang?”

 
 

 
 

Dia berkata, “Tidak”. Beliau bersabda:

فصلّ ركعتين وتجوّز فيهما

“Maka shalatlah dua rakaat dan lakukanlah dengan ringan”.

 
 

Al-Majdu Ibnu Taimiyah dalam Al-Muntaqo berkata: sabda Rasulullah “sebelum kamu datang” adalah dalil bahwa sesungguhnya 2 rakaat itu adalah (shalat) sunnah Jum’at yang sebelumnya bukan (shalat) tahiyyatul masjid.

 
 

Al-Maziyu mengomentarinya, bahwa sesungguhnya yang betul:

أصلّيت ركعتين قبل أن تجليس؟

“Apakah kamu sudah shalat sebelum kamu duduk ? ”

 
 

Maka sebagian perawi berpendapat, dia salah membacanya. Dalam riwayat Ibnu Majah dari Ibnu Abbas disebutkan: “Nabi s.a.w. pernah shalat sebelum Jum’at 4 rakaat, di antara 4 rakaat itu beliau tidak memisahkannya dengan sesuatu apapun”, sanadnya sangat lemah. Dalam bab yang sama, dari Ibnu Mas’ud dan Ali r.a. dari riwayat Ath-Thobroniy dalam “Al-Ausath”. .

 
 

Al-Hafizh Waliyuddin Al-Iroqiy berkata tentang hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairoh r.a.: “Ibnu Majah telah meriwayatkannya dalam sunannya dengan sanad yang sohih” (Lihat Thorhu At-Tastriib fii Syarhi At Taqriib, 3/42).

 
 

Dia berkata dari hadits Jabir yang telah diriwayatkan juga oleh Ibnu Majah : “Ayahku berkata (yakni Al-Hafizh Abdurrohim Al-Iroqiy) semoga Allah merahmatinya, berkata dalam syarah At-Tirmidziy: Dan sanadnya sohih”.

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam Fathu al-Bariy, 2/426: “Dalam masalah shalat sunnah Jum’at sebelum Jum’at, sebelum ada beberapa hadits dho’if yang lainnya, yang diriwayatkan di antaranya dari Abu Hurairoh, diriwayatkan oleh Al-Bazzar dengan lafal:

كان يصلّي قبل الجمعة ركعتين وبعدها أربعا 

 
 

“Nabi s.a.w. pernah shalat sebelum Jum’at dua rokaat dan sesudahnya 4 rakaat”.

 
 

Dalam sanad hadits ini ada kedhoifan”. Kemudian dia berkata:

“Dari Ibnu Mas’ud juga At-Thobroniy meriwayatkan seperti itu. Pada sanadnya ada kedhoifan dan inqitho’ (di salah satu celah sanadnya ada salah seorang perawinya selain sahabat yang gugur atau tidak disebut), Abdurrozzak meriwayatkannya dari Ibnu Mas’ud secara mauquf (hadits yang hanya disandarkan kepada sahabat tidak sampai kepada Rasulullah), dan ini yang benar. Ibnu Sa’ad meriwayatkan dari Shofiyah istri Nabi s.a.w., meriwayatkan secara mauquf seperti hadits Abu hurairoh.” (Fathu Al Bariy, 2/426)

 
 

Hadits Ibnu Mas’ud yang mauquf telah diriwayatkan oleh Abdurrozzak dalam karangannya dari Ma’mar, dari Qotadah: “Bahwa sesungguhnya Ibnu Mas’ud r.a. pernah shalat sebelum Jum’at 4 rakaat dan sesudahnya 4 rakaat” (Mushonnaf Abdurrozak, 3/247). Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Talkishu Al-Habiir, 2/74 mengatakan hadits ini sohih. Ibnu Abi Syaibah dalam Mushonnaf Ibnu Abi Syaibah, 1/463 telah meriwayatkan bahwa sesungguhnya Ibnu Mas’ud telah shalat sebelum Jum’at 4 rakaat. Abdurrozzak juga meriwayatkan bahwa sesungguhnya Ibnu Mas’ud pernah memerintahkan untuk shalat 4 rakaat sebelum Jum’at (Lihat Mushonnaf Abdurrazak, 2/427). Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Ad-Diroyah fii takhriiji Ahadiitsi Al-Hidayah hal. 218 berkata: “Para perawinya tsiqoot”.

 
 

Abu Daud, Ibnu Hibban dan selain mereka meriwayatkan dari Nafi’ dia berkata: “Ibnu Umar pernah memperpanjang shalat sebelum Jum’at dan shalat 2 rakaat sesudahnya di rumahnya. Dia menceritakan bahwa sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah melakukan hal itu”. (HR. Abu Daud dalam susunannya: kitab sholat bab shalat setelah Jum’at, Ibnu Hibban dalam shohihnya, Al-Ihsan 4/84 dan Ibn Khuzaimah dalam shohihnya 3/168, serta Ahmad dalam musnadnya, 2/103).

 
 

Ibnu Sa’ad dalam “Ath-Thobaqoot” 4/491 telah meriwayatkan dari Yazid bin Harun dari Hammad bin Salamah dari Shoofiyah, dia telah mendengar darinya dan berkata, “Saya telah melihat Shofiyah binti Haiyiy shalat 4 rakaat sebelum keluarnya Imam dan dia shalat Jum’at bersama dengan Imam dua rokaat”.

 
 

 
 

Ibnu Abi Syaibah  telah meriwayatkan dari Abu Majaz, bahwa

sesungguhnya dia pernah shalat di rumahnya 2 rakaat pada hari Jum’at. Dari Abdulloh bin Thowus dari ayahnya sesungguhnya dia tidak datang ke masjid pada hari Jum’at hingga shalat di rumahnya 2 rakaat. Dari Al-A’masy dari Ibrohim, dia berkata, “Mereka telah shalat sebelum Jum’at 4 rakaat”, (Mushonnaf Ibnu Syaibah, 1/463).

 
 

Telah diriwayatkan dari Ibnu Umar, “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah shalat sebelum dhuhur 2 rakaat dan sesudahnya 2 rakaat, setelah maghrib 2 rakaat di rumahnya, setelah isya’ 2 rakaat dan beliau pernah tidak shalat setelah Jum’at hingga pulang, kemudian shalat 2 rakaat” (HR. Bukhori dalam shohihnya di bawah bab shalat setelah Jum’at dan sebelumnya)

 
 

 Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata (dalam Fathu Al Bariy 2/426):

“Dia tidak menyebutkan sesuatu apapun dalam masalah shalat sebelumnya, yakni sebelum Jum’at. Ibnu Al-Munir berkata dalam Al-Hasyiyah, seakan-akan dia berkata, pada asalnya antara dhuhur dan Jum’at adalah sama. Sehingga ada dalil yang menunjukkan atas yang kebalikannya karena sesungguhnya itu adalah pengganti dhuhur. Dia berkata bahwa perhatiannya dengan hukum shalat setelah Jum’at lebih banyak. Oleh sebab itu dia menyuguhkannya dalam keterangannya yang berbeda dengan kebiasaan dalam mengedepankan qobliyah dan ba’diyah”.

 
 

Kemudian dia berkata,

“Ibnu At-Tin berkata: tidak pernah terjadi penyebutan shalat sebelum Jum’at dalam hadits. Barangkali Al-Bukhoriy ingin menetapkannya, diqiyaskan (dianalogikan) kepada dhuhur. Az-Zain Ibnu Al-Munir menguatkannya, bahwa sesungguhnya yang dimaksud sama, antara Jum’at dan dhuhur dalam masalah hukum shalat sunnahnya, sebagaimana kesamaan antara imam dan ma’mum dalam kedudukan hukum. Dan yang demikian itu menuntut, bahwa sesungguhnya shalat sunnah untuk mereka berdua adalah sama. Dan yang tampak, sesungguhnya Al- Bukhoriy memberi isyarat kepada apa yang telah terjadi di dalam kaitan hadits bab tersebut, yaitu apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Hibban dari jalan Ayyub, dari Nafi’. Lalu ia berkata: Ibnu Umar pernah memperpanjang shalat sebelum Jum’at dan shalat sesudahnya 2 rakaat di rumahnya dan dia menceritakan bahwa sesungguhnya Rasulullah s.a.w. pernah melakukan hal itu. Imam An-Nawawiy berhujjah dengan hadits ini dalam Al-Kholashoh, atas penetapan shalat sunnah Jum’at sebelumnya”.

 
 

Az-Zaila’iy berkata (dalam Nasbu Ar-Royan Liahaditsi Al-Hidayah, 2/207):

“Asy-Saikh Muhyiddin An-Nawawiy dalam bab ini tidak pernah meyebutkan selain hadits Abdulloh bin Mughoffal, bahwa sesungguhnya Nabi s.a.w..bersabda:

بين كلّ أذانين صلاة

“Antara setiap dua adzan ada shalat”. (H.R. Bukhoriy dan Muslim).

 
 

Dia menyebutnya dalam kitab shalat dan hadits Nafi’ juga menyebutkan, dia berkata: “Ibnu Umar pernah memanjangkan shalat sebelum Jum’at dan sesudahnya shalat 2 rakaat di rumahnya dan dia menceritakan bahwa sesungguhnya Rasulullah s.a.w. melakukan hal itu”. Dia berkata, “Abu Daud telah meriwayatkannya dengan sanad atas syarat Al-Bukhoriy”. Dan sunnah Jum’at telah disebutkan oleh penyusun kitab tersebut di masalah i’tikaf. Lalu dia berkata, “Shalat sunnah itu sebelum Jum’at 4 rakaat dan sesudahnya 4 rakaat. Dia memberi isyarat kepadanya dalam menjangkau yang fardhu”, kemudian dia berkata: “Andai kata telah qomat dan dia dalam dhuhur atau Jum’at maka dia hendaknya memotong di ujung dua rakaat, dikatakan, “Hendaknya dia menyempurnakannya”.

 
 

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathu Al Bariy 2/426 berkata bahwa hadits paling kuat yang dapat dijadikan pegangan disyariatkannya 2 rakaat sebelum Jum’at, adalah keumuman hadits yang menurut Ibnu Hibban sohih dari hadits Abdulloh bin Az-Zubair secara marfu’ (hadits yang disandarkan langsung kepada Nabi s.a.w.):

ما من صلاة مفروضة إلّا وبين يدين يديها ركعتان

“Tidak ada shalat fardhu (wajib) kecuali di antara dua sisinya ada dua rakaat shalat”. (HR. Ibnu Hibban dalam Shohihnya, Al-Ihsan, 4/77-78)

 
 

Dan yang sepertinya, hadits Abdulloh bin Mughoffal yang telah lewat dalam waktu shalat maghrib:

بين كلّ أذانين صلاة

“Antara tiap dua adzan ada shalat (sunnah)”. (Lihatlah Al-Ihsan bitartiibi Ibni Hibban, 2/48-49 dan 7/523.)

Ibnu Al-Arobiy Al-Malikiy dalam syarah At-Tirmidziy 2/132  berkata: “Dan adapun shalat sebelumnya, yakni Jum’at, maka sesungguhnya boleh”.

 
 

Abu Abdurrohman Syaroful Haq Al-Azhim Abadiy berkata yang konteksnya sebagai berikut: “Dan hadits itu (yakni hadits Ibnu Umar menunjukkan disyariatkannya shalat sebelum Jum’at. Yang melarangnya tidak berpegangan kecuali dengan hadits yang melarang shalat waktu zawal (yakni sebelum masuk waktu zhuhur). Padahal keumuman hadits itu dikhususkan dengan hari Jum’at. Tidak ada hadits yang menunjukkan larangan shalat sebelum Jum’at secara mutlak. Puncak pembahasan larangan shalat pada waktu zawal itu bukan merupakan arena perbantahan. Walhasil, singkat cerita sesungguhnya shalat sebelum Jum’at secara umum dianjurkan” (Aunu Al-Ma’bud alaa Sunani Abi Daud, 1/438)

 
 

Kemudian dia berkata : “Saya berkata, hadits Ibnu Umar yang keterangannya telah disampaikan oleh An-Nawawiy dalam “Al- Kholashoh”, sohih menurut syarat Al-Bukhoriy”. Al-Iroqiy dalam syarah At-Tirmidziy berkata: “Sanadnya sohih”. Al-Hafizh Ibnu Al- Mulaqqin dalam risalahnya berkata: “Sanadnya sohih secara pasti”. Ibnu Hibban meriwayatkannya dalam sohihnya”. (Aunu Al-Ma’bud alaa Sunani Abi Daud, 1/439)

 
 

Cukuplah beberapa contoh perbuatan sahabat besar Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar dan Ummul mukminin Shofiyah binti Hayyiy r.a. untuk mensyariatkan shalat 2 rakaat sebelum Jum’at dan perbuatan Abu Majlaz (Lahiq bin Hamid) tabiin besar, Thowas bin Kaisan Al-Yamani, salah seorang pembesar (murid-murid Ibnu Abbas r.a.) dan termasuk para pemuka tabi’in serta para tsiqohnya (orang yang dipercaya telah meriwayatkan hadits-hadits sohih seperti Al-Bukhoriy dan Muslim) dan Ibrahim bin Yazid An-Nakho’iy, dia adalah tabi’in yang tsiqoh dan mufti penduduk Kufah pada masanya serta iqror (penetapan) Sufyan Ats-Tsauriy dan Ibnu Al-Mubarok yang keduanya adalah termasuk para pembesar ulama’ yang amilin (yang mengamalkan ilmu). Cukup juga rasanya ungkapan sohih yang diutarakan oleh Al- Hafizh Ats-Tsiqoh Ats-Tsabit (orang yang kredibel dari segi keilmuan) Az-Zain Al-Iroqiy guru Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolaniy dan yang lain-lain di bidang hadits.

 
 

Dalam penutup sanggahan kami, kami sampaikan kepada Nasiruddin Al-Albaniy. Kami katakan kepadanya: “Kamu telah bertentangan dalam masalah ini dengan pimpinanmu Al-Harroniy yang Anda sebut sebagai syaikhul Islam yang telah membolehkan shalat sunnah sebelum Jum’at. Dia berkata: “Barang siapa yang melakukan itu tidak dapat disalahkan” sebagaimana yang dinukil sohibul Inshaf Al-Hanbaliy darinya (Al-Inshoof, 2/402).

 
 

Dari sanggahan yang ringkas ini, telah nyata disyariatkan shalat sunnah sebelum shalat Jum’at dari penuturan ahli ilmu dan pengetahuan. Dan dengan ini kami telah menyalahkan perkataan Al-Albaniy yang mengatakan shalat sunnah qobliyah Jum’at tidak ada dasarnya dalam sunnah yang sohih.

 
 

Dengan ini maka tampaklah keplinplanan dan perbedaan antara Al-Albaniy dan pimpinannya Al-Harroniy Ibnu Taimiyah!

 
 

M. Luqman Firmansyah

“DOWNLOAD PDF”

DIALOG VON EDISON ALOUSCI VS WAHABI

Oleh Albert Freanix ( Sunni madhzab Syafi`i .asal german )

Kejadian ini penulis saksikan sendiri di kota baturaja. Saat mau manghadiri acara yasinan di tempat tetangga. Mei 2010
Malam penulis, Von edison Alouisci,Dua oarang Ustadz juga bebarapa temannya keluar Rumah kost. menuju kerumah salah satu tetangganya yang tengah mengadakan acara yasinan bersama. Ditempat itu memang biasa bergilir antar rumah rumah.membaca yasinan.berdoa, setelah Sholat Isya bersama sama.
Dalam perjalanan kami bertemu dengan seorang wahabi yang sedang asyik baca bacabuku diteras rumahnya..melih at sdr von ini,si wahabi bertanya ” antum mau kemana ??


Von Edison Alouisci menjawab : “mau ke tempat tetangga.di undang sholat berjemaah sekaligus yasinan dan berdoa. Ente tidak kesana ??: ( von bertanya)

Wahabi :” oo.. nggak kok.kalaupun diundang mau apa juga datang.itukan perkara bid`ah.”

Von Edison Alouisci : hehe.. kata siapa ntu bid`ah ?? emangnya bid`ah itu apa ??

Wahabi : antum mampir saja benar. Ayoo mumpung kebetulan saya lagi buka buka kitab neh “

Von edison penulisi,dan seorang Ustadz kemudian masuk kepekarangan.da n duduk bersama si wahabi di teras rumahnya.setala h itu si wahabi berkata : la kan ada riwayat Jabir bin Abdullah.beliau berkata, Rasulullah Saw bersabda: sebaik-baik ucapan adalah Kitab Allah, sejelek-jelek perkara adalah perkara yang baru, dan setiap bid’ah adalah sesat.” Inikan dah tegas !”

Von Edison Alouisci : hehehe ente neh..mangnya semudah itu memahami bid`ah?? ente jgn memahaminya menurut analisa ente sendiri.
( kami semua cengir cengir saja sambil menyimak )

Wahabi : siapa bilang nurut akalku sendiri.ulamaku juga menegaskan kok.
Von Edison Alouisci : mangnya siapa ulama yang ente idolakan ??

Wahabi : Syeikh Utsmain. Beliau ulama hebat dan menjadi kebangganku bahkan semua pengikut wahhabiyah.
Von Edison Alouisci : hmm emang apa katanya soal bid`ah ??

Wahabi : ” Tahu nggak antum,ulama kami telah men jelaskan dalam kitab “al-ibda’ fi kamalis syar’i wa khotoril ibtida’ halaman 13 ( sambil memperlihatkan kitabnya )” :”qouluhu ( kullu bid’atin dholalatun ) kulliyatun, aammatun, syaamilatun, musyawwarotun bi aqwaa adawaatis syumuuli wal umumi ( kullu ), afaba’da hadzihil kulliyati yasihhu an nuqossimal bid’ata ila aqsaami tsalasatin, aw ila aqsami khomsatin? ABADAN LA YASIHHU” ( hal 13 )
Artinya: “Hadits (smua bid’ah adalah sesat) bersifat general, umum, menyeluruh, di pagaridengan kata yang menunjuk pada arti menyeluruh dan umum yang paling kuat yaitukata-kata “kullu ( seluruh )”, apakah setelah ketetapan menyeluruh ini kita di benarkan membagi bid’ah menjadi 3 bagian/menjadi 5 bagian? SELAMANYA TIDAK AKAN BENAR”
Nah Antum mestinya paham jika Pernyataan Syaikh Muhammad bin Solih Al-Utsaimin maksudnya a hadits “smua bid’ah adalah sesat” tanpa terkecuali, hingga tidak ada satupun bid’ah hasanah apalagi bid’ah mandubah ( yang mendatangkan pahala bagi pelakunya ), alasan Syaikh Muhammad bin Solih Al-Utsaimin ini menolak pembagian bid’ah adalah kosakata “kullu”.disini jelas,bidah itu sesat dan sesat itu neraka !!

Von Edison Alouisci : itukan pendapat ulama ente yang kata ente paling hebat.tapi buktinya ulama ente nggak karuan karuan pemahamannya soal ini .

Wahabi : Antum Jangan suka memfitnah.antum harus buktikan jika Syeikh Utmain memang tak karuan karuan.kitab nya dah jelas kok..

Von Edison Alouisci : hehehe..ente jangan sepotong sepotong memenggal penjelasan isikitabnya.coba ente lihat di halaman 18-19 di kitab yang ente maksud . coba perhatikan bukankah katanya begini :
“wa minal qowa’idil muqorroroti annal wasa’ila laha ahkamul maqosidi fa wasaa’ilul masyru’i masyruu’atun wa wasaa’ilu ghoiril masyru’i ghoiru masyruu’atin bal wasaa’ilul muharromi haroomun, fal madarisu wa tasniful ilmi wa ta’liful kutubi wa in kaana bid’atan lam yuujad fii ahdin nabi saw, ala hadzal wajhi illa annahu laysa maqsodan bal huwa washilatun wal wasaa’ilu laha ahkamul maqoosid, wa lihadza lau banaa syakhsun madrosatan lita’limil ilmin muharromin kaana al binaa’u harooman wa lau banaa madrosatan lita’limi ilmi syar’iyyin kaana al binaa’u masyruu’an”

Nah Dalam qoul ini terbukti si utsmain malah membatalkan omongannya l sebelumnya yang di halaman 13 yang ente sebutkan tadi. Iya toh ?? di halaman ini terbukti si ustmain malah intinya menjelasakan semua bid’ah itu semua sesat tanpa terkecuali dan sesat tempatnya di neraka dan selamanya tidak akan benar membagi bid’ah menjadi 3 apalagi menjadi 5.

Tapi kemudian Syaikh Muhammad bin Solih Al-Utsaimin menyatakan bahwa membangun madrosah, menyusun ilmu dan mengarang kitab itu bid’ah yang belum pernah ada pada masa Rasulullah SAW, namun hal INI ADALAH BID’AH YANG BELUM TENTU SESAT, BELUM TENTU KE NERAKA, Bahkan Syaikh ente ini dalam soal ini membagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan hukum tujuannya. Hehe.. kan lucu toh kok di kitab yang sama syaikhnya ente malah saling berlawanan. Apa salah saya mengkatakan si utsmain tak karuan karuan. Apa saya memfitah sedangkan itu kalimat syeikh ente sendiri danmalah tidak kitab yang sama pula.coba baca berulang ulang deh..hehehehe..

Wahabi : (Diam )

Von Edison Alouisci : Mau bukti lagi ?? mari kita sama sama buka kitab syarh aqidah al wasithiyyah hal 336 . Coba perhatikan..bukankah Syeikh menyatakan kata “kullu” bermakna menyeluruh tanpa memiliki pengecualian dan pembatasan . Ente lihat kan ia menulis :

“anna mitsla hadza at ta’bir ( kullu syai’in ) aammun qod yuroodu bihil khossu, mitslu qoulihi ta’ala an malikati saba’in: ( wa ‘uutiyatmin kulli syai’in ), wa qod khoroja syai’un katsiirun lam yudkhol fii mulkiha minhu syai’un mitslu mulki sulaiman”

Artinya: contoh seperti redaksi “kullu syai’in ( segala sesuatu )” adalah kalimat umum yang terkadang di maksudkan pada makna yang terbatas, seperti firman Allah tentang Ratu Saba’ : “ia di karuniai segala sesuatu” ( surat an-naml ayat 23 ) padahal banyak sekali sesuatu yang tidak masuk dalam kekuasaannya, seperti kerajaan Nabi SulaimanAs”

Hehehe bukankah dalam qoul yang ini ternyata Syaikh nya ente mengakui bahwa tidak semua kata “kullu” dalam teks Al-Qur’an/ Hadits bermakna general ( am ) tetapi ada yang bermakna terbatas ( khosh ). Ayoo.. gimana ??

Wahabi : (Diam )

Von Edison Alouisci : sekarang coba kita lihat lagi kitab Syarh aqidah al-wasithiyyah sohifa.coba ambil.

 

Wahabi ini kemudian mengambil kitab yang di maksud.dia berkata ” halaman berapa??”

 

Von Edison Alouisc : Coba ente Buka Halaman 639-640.bacalah

 

Wahabi ini kemudian membaca :

“al-aslu fii umuurid dunya al hillu fama ubtudi’a minha fahuwa halaalun, illa an yadullu ad daliilu ala tahriimihi, lakin umuuruddiinil aslu fiihal hadzoru, fama ubtudi’a minhafahuwa haroomun bid’atun, illa bi daliilin minal kitabi was sunnati ala masyru’ iyyatihi”

Von Edison Alouisci : ente Paham Maksudnya??

Wahabi : mangnya apa nurut ente maksudnya?? (dia balik tanya )

Von Edison Alouisci : Maksudnya begini (von membacanya ) :

“hukum asal perbuatan baru dalam urusan-urusan dunia adalah halal, jadi bid’ah dalam urusan-urusan dunia itu halal, kecuali ada dalil menunjukkan keharamannya, tetapi hukum asal perbuatan baru dalam urusan-urusan agama adalah dilarang, jadi berbuat bid’ah dalam urusan-urusan agama adalah haram dan bid’ah, kecuali ada dalil dari Kitab dan Sunnah yang menunjukkan keberlakuannya”

Nah ente lihat sendiri kan jika si utsmain justru membatalkan omongannya sebelumnya bahwa qoul yang pertama semuabid’ah secara keseluruhan adalah sesat dan sesat itu tempatnya di neraka.

Lanjut Von kemudian : ” Lihat syeikh ente terbukti membatalkannya dengan qoulnya yang menyatakan bahwa “bid’ah dalam urusan dunia halal semua kecuali ada dalil yang melarangnya, dan bid’ah dalam urusan agama adalah haram sebab bid’ah semuanya kecuali ada dalil yang membenarkannya, dengan klasifikasi bid’ah menjadi Dua. Gimana ?? ente sekarang masih mau berpegang dengan dalil Utsmain yang tidak karuan karuan itu ??

Wahabi : (diam .sambil garuk garuk kepalanya.wahab i ini tidak bisa membantah.muka manyun plus malu).

Von Edison Alouisci : hehe.. iya udah deh.. met baca baca ya.. saya mo pamit dulu deh..Assalamu`a laikum !! Ayoo teman teman,ustadz kita berangkat.

Kami pun beranjak pergi .penulis bilang ” heheheh…ni lum sang ustadz turun tangan ngeladeni dia ”

ustad cengar cengir sambil bilang ” ngeladenidia cukup kalian aje deh hehehe..

kamipun ketawa rame rame..

 

Sumber : 1 Jt Menolak Wahabi

KALAH DEBAT, WAHABI KABUR

Mudzakarah Buya Yahya dengan Prof Salim Bajri

 

TAHLIL???

Rustam Hadi :

Iseng2 berangkat kerja sambil baca kitab dikereta.. Kebetulan arah Depok memang banyak jama’ah cingkrangiyah.. Dan salah seorang dari mereka mencoba untuk menyapa..

Cingkrang: Buku apa itu mas..?! (muka serius mata mencereng).

Saya: Ooo.. ini mas Hidayatussalikin.. (males nengok..)

Cingkrang: Isinya tentang apa mas..?! (mukanya makin asem).

Saya: Bukan apa2 mas.. Kajian untuk sehari-hari aja.. (nengok sambil nyengir males).

Cingkrang: Termasuk tahlil dan maulid ada disitu..?!
(mukanya makin asem bin kecut).

Saya: mmhh.. ada kok mas.. (bo’ongin aja dah sekalian)

Cingkrang: Boleh saya liat..?! (sambil melotot)

Saya: Ooo.. silahkan mas.. 🙂

Cingkrang: kebat.. kebet.. kebat.. kebet.. mana mas pembasan tahlilnya.?! (sambil melototin kitab).

Saya: ada kok mas dihalaman 30.. 🙂
(Asal nyebut.. :D)

Cingkrang: (buka halaman 30).. “Paslun pii adabi qodooil hajati”.. ini bukan mas..?! (masih sambil melototin kitab).

Saya: mmhh.. kalo nggak salah itu mas.. 😀

Cingkrang: ….diem melototin kitabBi.. (10 menitan)..

Saya: sudah ketemu mas..?!

Cingkrang: hmm.. iya.. iya.. (sambil manggut2).. tapi saya tetep yakin tahlilan itu amalan yang bid’ah mas.. (muka jelek sambil nyerahin kitab ke saya..)

Saya nyengir aja trus diem2an kaya lagi marahan… 😀

image

LINK :
http://www.facebook.com/groups/1OMWDI/permalink/342752335795894/

Yazid Jawas Di SEMPROT Habib Rizieq Shihab

Sudah tidak asing kan dengan buku di bawah ini?

buku mulia dengan manhaj salaf

Buku ini sangat istimewa, sehingga mampu menyita perhatian  Habib Rizieq Shihab, orang No. 1 di FPI ini secara khusus mengupasnya dalam sebuah acara pengajian, Penasaran? langsung aja ke TKP :)

Debat Tawasul dengan Nabi setelah meninggal

                                      VS                                 

Abu Hasan                                                             Nukasep Thea

Kelemahan Kisah Al-‘Utbiy tentang Tawassul

Oleh Abu Hasan di ISLAM DENGAN SUNNAH DAN BID’AH HASANAH · Sunting Dokumen

Sebagian kalangan berhujjah dengan kisah Al-‘Utbiy untuk melegalkan amalan tawassul mereka di kuburan orang (yang dianggap) shaalih. Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir-nya membawakan kisah tersebut sebagai berikut :

وقد ذكر جماعة منهم: الشيخ أبو نصر بن الصباغ في كتابه “الشامل” الحكاية المشهورة عن العُتْبي، قال: كنت جالسا عند قبر النبي صلى الله عليه وسلم، فجاء أعرابي فقال: السلام عليك يا رسول الله، سمعت الله يقول: { وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ جَاءُوكَ فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ تَوَّابًا رَحِيمًا } وقد جئتك مستغفرا لذنبي مستشفعا بك إلى ربي ثم أنشأ يقول :

يا خيرَ من دُفنَت بالقاع أعظُمُه … فطاب منْ طيبهنّ القاعُ والأكَمُ …

نَفْسي الفداءُ لقبرٍ أنت ساكنُه … فيه العفافُ وفيه الجودُ والكرمُ …

ثم انصرف الأعرابي فغلبتني عيني، فرأيت النبي صلى الله عليه وسلم في النوم فقال: يا عُتْبى، الحقْ الأعرابيّ فبشره أن الله قد غفر له

“Dan telah disebutkan oleh sekelompok ulama, diantaranya : Asy-Syaikh Abu Nashr bin Ash-Shabbaagh dalam kitabnya As-Syaamil sebuah hikayat yang masyhur dari Al-‘Utbiy. Ia (Al-‘Utbiy) berkata : “Aku pernah duduk di sisi kubur Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Lalu datanglah seorang Arab baduwi yang berkata : ‘Assalaamu ‘alaika yaa Rasuulallaah (salam sejahtera bagimu wahai Rasulullah). Aku telah mendengar firman Allah : Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang (QS. An-Nisaa’ : 64). Dan sungguh aku datang kepadamu sebagai orang yang meminta ampun atas dosaku meminta pertolongan melalui perantaraanmu kepada Rabb-ku’. Kemudian ia mengucapkan syair :

Wahai sebaik-baik manusia yang jasadnya dikuburkan di dalam tanah

Menjadi harumlah tanah dan bukit karenanya

Jiwaku sebagai penebus bagi kubur yang engkau tempati

Di dalamnya ada kesucian, kemurahan, dan kemuliaan

Continue reading

%d bloggers like this: